Momen Ketika Bos/ Senior Gen-Z Ngajarin Cara Handle Klien Toxic
Sukoharjo, JIAARA ID - Bayangkan kita sedang mengerjakan sesuatu sambil mendengarkan musik dengan earbuds, lalu melihat ekspresi karyawan atau juniormu mulai gemetar atau geram karena menghadapi klien yang mengirim chat di luar jam kerja dengan nada menuntut.
Ini Opini saya (tidak mewakili Gen-Z manapun), Jika saya sebagai owner atau senior, tugas pertama yang harus saya lakukan adalah mengajarkan seni menghadapi orang bebal dengan elegan.
katakanlah kepada mereka bahwa kalau klien mulai melakukan gaslighting soal deadline yang mereka buat sendiri, jangan dibalas dengan emosi.
Kalau mereka toxic, anggap saja itu kebisingan latar belakang. Jangan biarkan suasana hati hancur hanya karena seseorang di sana tidak tahu cara berkomunikasi dengan manusia secara beradab.
Profesionalisme bukan berarti menjadi keset kaki yang bisa diinjak-injak. Kita bekerja untuk mencari nafkah, bukan untuk mencari penyakit mental karena ulah orang lain. Jika klien mulai menunjukkan perilaku tidak sehat, cukup berikan batasan yang jelas, sampaikan fakta secara objektif seperti aturan yang sudah diterapkan oleh kantor sejak lama yaitu hanya melayani sesuai jam operasional atau aturan lain yang tidak dapat memaksakan pekerjaan.
Lalu, kembali fokus pada prioritas. Tidak perlu mencari validasi dari orang yang bahkan tidak paham apa yang mereka inginkan sendiri.
Di balik gaya santai ini, ada keunggulan Gen-Z yang sering disalahpahami. Kekuatan (kami/kita) terletak pada kejujuran emosional dan keberanian menetapkan batasan yang sehat. Kita bukan generasi lemah, melainkan generasi yang sadar akan harga diri di tengah dunia kerja yang sering kali tidak manusiawi. Sifat kritis kita terhadap budaya kerja yang beracun sebenarnya adalah bentuk evolusi profesionalisme. Kita membawa empati ke meja kerja, namun tetap tegas bahwa setiap manusia layak dihormati. Integritas diri jauh lebih berharga daripada sekadar menyenangkan klien yang tidak menghargai sesama manusia.
